COVID-19

Where is the 100-day plan to ensure that the 65th National Day on August 31, 2022 Malaysia will not be under the cloud of Covid-19 pandemic?

By Kit

September 01, 2021

(Tatal ke bawah untuk kenyataan versi BM)

In his maiden National Day address, the ninth Prime Minister, Ismail Sabri said he hoped the National Day celebrations this year will be the last under the cloud of the Covid-19 pandemic.

Two question arises: Firstly, where is the 100-day plan to ensure that the 65th National Day on August 31, 2022 will not be under the cloud of Covid-19 pandemic.

There are many aspects of the policy, strategy and approach in the 20-month war against Covid-19 pandemic that must be revamped and one is the communication policy.

I have asked the new Health Minister, Khairy Jamaluddin many questions about the government’s handling of the war against Covid-19 in the last few days, and I am still waiting for the answers – whether he could return Malaysia in the next 12 months to the 63rd National Day when the country had only double-digit Covid-19 cases and single-digit Covid-19 deaths, why there is an upsurge in Malaysia’s Covid-19 caseload although there is an increasing vaccination rate in the country and why Malaysia is losing out to Indonesia in the last two weeks in having more daily new Covid-19 cases, for instance 20,891 new Covid-19 cases in Malaysia yesterday as compared to Indonesia’s 10,534 cases.

Secondly, Ismail does not seem to realise that it is not within Malaysia’s capability to determine whether the 65th National Day will be marked under a cloud of the Covid-19 pandemic, because this depends on two factors: Malaysia’s performance in the war against the Covid-19 pandemic and the global performance.

Unfortunately, Malaysia’s performance in the war against the Covid-19 pandemic in the last one year had been a catastrophic one, with Malaysia emerging as one of the worst performing nations in the world as illustrated by the following four examples:

(i) Malaysia overtaking 66 countries in having the most cumulative total of Covid-19 cases to be ranked No. 23, when we were ranked No. 89 twelve months ago;

(ii) falling to the bottom of the Bloomber’s monthly Covid Resilience Ranking of 53 economies of more than US$200 billion;

(iii) beating all ASEAN nations in both “total confirmed cases per million population” and “new daily cases per million population” on the “Our World in Data” website; and

(iv) Yesterday being the world’s No. 7th nation in daily new Covid-19 cases and No. 9 in daily new Covid-19 deaths.

On the 63rd National Day 12 months ago, we had a cumulative total of 9,340 Covid-19 cases and 127 Covid-19 deaths.

On our 64th National Day yesterday, we had 1,746,254 million Covid-19 cases and 16,664 Covid-19 deaths – a phenomenal increase of 187 times for Covid-19 cases and another phenomenal increase of 131 times for Covid-19 deaths.

At the pace of 187 times’ increase of Covid-19 cases and 131 times’ increase of Covid-19 deaths, by the 65th National Day of August 31, 2022 in the next 12 months, we will have 327 million Covid-19 cases and 2.2 million Covid-19 deaths.

We would have overshadowed the United States, the present world’s top country world with over 40 million Covid-19 cases and 657,520 Caovid-19 deaths.

But 327 million Covid-19 cases in Malaysia is an impossibility as it is 10 times Malaysia’s present population of 32 million – but it presents a grim picture of the magnitude of the disastrous trajectory of the mishandling of the Covid-19 pandemic in Malaysia in the last 12 months – especially the image of one Covid-19 death out of every 16 people in Malaysia.

The global performance of the war against Covid-19 pandemic is beyond Malaysia’s ability to influence.

A top epidemiologist, Larry Brilliant, who was part of the World Health Organisation (WHO) team to helped eradicate smallpox, does not think that the Covid-19 pandemic is coming to an end soon.

Although 39.5% of the world population has received at least one dose of a Covid-19 vaccine, only 1.7 per cent of people in low-income countries have received at least one dose.

At the current pace of administering 41 million doses of vaccine a day, the goal of high levels of global immunity remains a long way off.

The war against the Covid-19 pandemic cannot be won by an individual or a nation going solo, as nobody is safe until all are safe.

This global vaccination progress is now under threat with new coronavirus strains, led by the highly transmissible Delta variant, which is estimated to be a thousand times more potent – and this week there are reports of a new Covid variant in South Africa which was first detected in May but has since spread to seven other countries spanning Africa, Europe, Asia and Oceania raising questions whether it could be super-spreader.

This has developed into a life-and-death contest between vaccine and virus in the world..

Although Malaysia cannot influence the global aspects of the Covid-19 pandemic, we must not become one of the world’s worst-performing nations in the war against the Covid-19 pandemic – and this bring us back to the 100-day plan to gain control of the war against the Covid-19 pandemic in Malaysia.

(Media Statement by DAP MP for Iskandar Puteri Lim Kit Siang in Kuala Lumpur on Wednesday, 1st September 2021)

 

Di manakah rancangan 100 hari untuk memastikan sambutan Hari Kebangsaan ke-65 pada 31 Ogos 2022 tidak lagi diselubungi wabak Covid-19?

Semasa menyampaikan perutusan Hari Kebangsaan, Perdana Menteri ke-9, Ismail Sabri berkata beliau berharap sambutan Hari Kebangsaan pada tahun ini akan menjadi yang terakhir negara kita diselubungi wabak Covid-19.

Dua persoalan timbul: Pertama, di manakah pelan 100 hari untuk memastikan sambutan Hari Kebangsaan ke-65 pada 31 Ogos 2022 tidak lagi diselubungi wabak Covid-19?

Terdapat banyak aspek berkaitan dasar, strategi dan pendekatan dalam perang melawan wabak Covid-19 selama 20 bulan yang harus diperbaharui dan salah satunya adalah dasar berkaitan komunikasi.

Saya telah mengajukan beberapa soalan kepada Menteri Kesihatan baharu, Khairy Jamaluddin antaranya tentang cara kerajaan mengemudi perang melawan Covid-19 sejak beberapa hari lalu, dan sehingga kini saya masih menantikan jawapan daripada beliau — sama ada beliau boleh mengembalikan Malaysia dalam tempoh 12 bulan akan datang kepada situasi semasa sambutan Hari Kebangsaan ke-63 di mana negara ini hanya merekodkan kes Covid-19 dua angka dan satu angka kes kematian akibat wabak ini, mengapa terdapat lonjakan dalam kes Covid-19 di Malaysia meskipun kadar vaksinasi meningkat dan mengapa Malaysia tewas kepada Indonesia sejak dua minggu lalu dengan merekodkan lebih banyak kes harian baharu Covid-19, sebagai contoh; kes baharu Covid-19 di Malaysia semalam adalah sebanyak 20,891 berbanding Indonesia (10,534).

Kedua, Ismail seolah-olah tidak sedar yang ia bukanlah dalam lingkungan kemampuan Malaysia untuk menentukan sama ada kita akan menyambut Hari Kebangsaan ke-65 dalam keadaan yang masih diselubungi wabak Covid-19, kerana keadaan itu bergantung kepada dua faktor: Prestasi Malaysia dalam perang melawan wabak Covid-19 dan juga prestasi global.

Malangnya, prestasi Malaysia dalam perang melawan wabak Covid-19 dalam tempoh setahun lalu amat bercelaru, dengan Malaysia menjadi salah satu negara dengan prestasi terburuk seperti yang dapat dilihat dalam empat contoh berikut:

(i) Malaysia memintas 66 negara dengan memiliki jumlah terkumpul kes Covid-19 tertinggi untuk berada di kedudukan ke-23, sedangkan kita berada di kedudukan ke-89 pada 12 bulan yang lalu;

(ii) Berada di kedudukan tercorot dalam carta ketahanan Covid-19 (Covid Resilience Ranking) Bloomberg daripada 54 negara dengan nilai ekonomi melebihi AS$200 bilion;

(iii) Menewaskan semua negara ASEAN untuk kedua-dua kategori iaitu “jumlah kes persejuta penduduk” dan “kes harian baharu persejuta penduduk” seperti disiarkan di laman web “Our World in Data; dan

(iv) Semalam, menjadi negara ke-7 dengan kes harian baharu Covid-19 tertinggi dan negara ke-9 dengan kes kematian harian baharu tertinggi.

Pada sambutan Hari Kebangsaan ke-63 pada 12 bulan yang lalu, kita mempunyai jumlah terkumpul kes Covid-19 sebanyak 9,340 dengan jumlah keseluruhan kes kematian akibat wabak ini sebanyak 127.

Pada sambutan Hari Kebangsaan ke-64 semalam, kita mempunyai 1,746,254 juta kes Covid-19 dan 16,664 kematian — peningkatan yang amat dahsyat, sebanyak 187 kali ganda untuk jumlah kes terkumpul dan peningkatan sebanyak 130 kali ganda untuk jumlah kematian.

Pada kadar peningkatan 187 dan 130 kali ganda kadar jangkitan terkumpul dan kadar kematian terkumpul dalam 12 bulan yang lepas, menjelang sambutan Hari Kebangsaan ke-65, kita akan menyaksikan 327 juta kes Covid-19 dan 2.2 juta kematian akibat wabak ini.

Kita akan meninggalkan Amerika Syarikat jauh di belakang, yang buat masa ini merupakan negara dengan jumlah kes tertinggi dengan kira-kira 40 juta kes terkumpul dan 657,520 kematian akibat Covid-19.

Namun, 327 juta kes terkumpul Covid-19 di Malaysia adalah satu perkara yang mustahil untuk berlaku, kita hanya mempunyai 32 juta orang penduduk — tetapi perkara ini masih memberikan gambaran suram mengenai betapa teruknya pengendalian Covid-19 di Malaysia dalam tempoh 12 bulan yang lepas — lebih-lebih lagi gambaran satu daripada 16 orang di Malaysia terkorban akibat Covid-19.

Prestasi Malaysia dalam menangani perang melawan Covid-19 begitu teruk untuk meninggalkan sebarang kesan yang ketara terhadap tahap prestasi di peringkat global.

Pakar epidemiologi, Larry Brilliant, yang merupakan sebahagian pasukan Pertubuhan Kesihatan Sedunia yang membantu membasmi penyakit cacar, tidak berkongsi pendapat yang mengatakan bahawa pandemik Covid-19 akan berakhir tidak lama lagi.

Meskipun 39.5% populasi dunia telah menerima sekurang-kurangnya satu dos vaksin Covid-19, hanya 1.7 peratus individu di negara pendapatan rendah telah menerima sekurang-kurangnya satu dos.

Mengikut kadar semasa pemberian 41 juta does vaksin sehari, matlamat untuk mencapai tahap imuniti kelompok yang tinggi dilihat masih jauh untuk dicapai.

Perang melawan wabak Covid-19 tidak boleh dimenangi oleh seseorang individu atau sesebuah negara secara bersendirian, kerana tiada yang selamat sehinggalah semua terselamat.

Kemajuan vaksinasi global kini terancam dengan kemunculan strain baharu coronavirus — varian Delta yang lebih mudah merebak, yang dianggarkan 1,000 kali lebih kuat — dan dalam minggu ini terdapat laporan tentang kemunculan varian baharu Covid di Afrika Selatan yang mana pertama kali dikesan pada bulan Mei, tetapi sehingga kini telah merebak di tujuh negara lain di rantau Afrika, Eropah, Asia dan Oceania sekaligus membangkitkan persoalan sama ada ia akan menjadi penyebar utama atau super-spreader.

Perkara ini telah berkembang menjadi semacam persaingan hidup dan mati antara vaksin dan virus-virus di dunia…

Meskipun Malaysia tidak dapat meninggalkan kesan positif terhadap prestasi global dalam menangani wabak Covid-19, kita tidak harus menjadi salah sebuah negara di dunia dengan prestasi terburuk dalam perang melawan pandemik Covid-19 — dan kerana itulah pelan 100 hari untuk menguasai perang melawan pandemik Covid-19 harus menjadi perkara paling penting untuk diusahakan.

(Kenyataan media Ahli Parlimen DAP Iskandar Puteri Lim Kit Siang di Kuala Lumpur pada hari Rabu, 1 September 2021)